Rabi’ah adalah anak keempat dari
empat saudara. Semuanya perempuan. Ayahnya menamakan Rabi’ah, yang artinya
“empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu.
Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki.
Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga
Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup
serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun
keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah
selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak
kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak
menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan
keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian
melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan
sejarah para sufi.
Rabi’ah
memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk sya’ir-sya’ir Cinta
Ilahinya yang kerap ia senandungkan. Namun begitu, Sya’ir-sya’ir sufistiknya
justru banyak dikutip oleh para penulis biografi Rabi’ah, antara lain J. Shibt
Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan karyanya Mir’at az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu
Khallikan (w. 1282 M) dengan karyanya Wafayatul A’yan (Obituari Para Orang
Besar), Yafi’I asy-Syafi’i (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi
Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang Saleh), dan
Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat al-Auliya’ (Memoar
Para Wali).
-->
Dari sekian banyak penulis
biografi Rabi’ah, Tadzkirat al-Awliya’ karya Fariduddin Aththar tampaknya
dianggap sebagai buku biografi yang paling mendekati kehidupan Rabi’ah,
terutama ketika awal-awal Rabi’ah akan lahir di tengah keluarga yang sangat
miskin itu (tapi ada yang menyebutkan bahwa keluarga Rabi’ah sebenarnya
termasuk keturunan bangsawan). Riwayat Aththar, yang dikutip Margaret Smith
dalam bukunya Rabi’a the Mystic & Her Fellow-Saints in Islam (sebuah
disertasi, terbitan Cambridge University Press, London, 1928), antara lain
banyak mengungkap sisi-sisi kehidupan Rabi’ah sejak kecil hingga dewasanya.
Diceritakan,
sewaktu bayi Rabi’ah lahir malam hari, di rumahnya sama sekali tidak ada minyak
sebagai bahan untuk penerangan, termasuk kain pembungkus untuk bayi Rabi’ah.
Karena tak ada alat penerangan, ibunya lalu meminta sang suami, Ismail, untuk
mencari minyak di rumah tetangga. Namun, karena suaminya terlanjur berjanji
untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), Ismail
pun terpaksa pulang dengan tangan hampa. Saat Ismail tertidur untuk menunggui
putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh
Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak
perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang
pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok
kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa
ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak
empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya
ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah
Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan
mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat
pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata:
“Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima
kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada
orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku
supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang
seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan
mengusap penderitaannya dengan janggutku.”
Aththar
juga menceritakan mengenai nasib malang yang menimpa keluarga Rabi’ah. Saat
Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah
kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama
setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya
terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu
sendirian.
Suatu
hari, ketika sedang berejalan-jalan di kota Basrah, ia berjumpa dengan seorang
laki-laki yang memiliki niat buruk. Laki-laki itu lalu menarik Rabi’ah dan
menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham kepada seorang laki-laki.
Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang
manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Suatu
ketika, ada seorang laki-laki asing yang datang dan melihat Rabi’ah tanpa
mengenakan cadar. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu meronta dan
kemudian jatuh terpeleset. Mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata: “Ya
Allah, aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan
seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak
bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridla-Mu. Aku ingin
sekali mengetahui apakah Engkau Ridla terhadapku atau tidak.” Setelah itu, ia
mendengar suara yang mengatakan, “Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari
Perhitungan nanti derajatmu akan sama
Setelah
itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa
sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari. Konon, dalam menjalankan ibadah itu,
ia sanggup berdiri di atas kakinya hingga siang hari.
Pada
suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya
ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya
Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk
selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Jika persoalannya hanyalah terletak
padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadah
kepada-Mu, ya Allah. Karena Engkau-lah yang telah menciptakanku.” Tatkala
Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang
tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya.
Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil
dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang
Muslimah suci.
Melihat
peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja
merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula.
Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia
memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan
Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya
di padang pasir yang tandus.
Dalam
pengembaraannya Rabi’ah berkeinginan sekali untuk pergi ke Mekkah menunaikan
ibadah haji. Akhirnya, ia berangkat juga dengan ditemani seekor keledai sebagai
pengangkut barang-barangnya. Sayangnya, belum lagi perjalanan ke Mekkah sampai,
keledai itu tiba-tiba mati di tengah jalan. Ia kemudian berjumpa dengan
serombongan kafilah dan mereka menawarkan kepada Rabi’ah untuk membawakan
barang-barang miliknya. Namun, tawaran itu ditolaknya baik-baik dengan alasan
tak ingin meminta bantuan kepada bukan selain Tuhannya. Ia hanya percaya pada
bantuan Allah dan tidak percaya pada makhluk ciptaan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar